Pemberdayaan Sekolah
|
DITULIS OLEH MUJTAHID
|
RABU, 12 OKTOBER 2011 07:07
|
DALAM rangka mendesain, merancang atau merencanakan program kegiatan pendidikan, setidaknya yang harus diperhatikan bagi setiap penyelenggara sekolah adalah nilai-nilai yang orientasi pada visi profesionalisme. Profesionalisme seperti yang dimaksudkan, secara sederhana dapat dipahami sebagai konsep yang mengacu kepada sikap seseorang atau kelompok yang memiliki sistem budaya dalam memberikan service yang memuaskan bagi yang dilayani sesuai dengan tugas dan tanggungjawabnya.
Menyadari akan pentingnya visi profesionalisme,
maka bagi setiap penyelenggara sekolah diharapkan dapat meningkatkan kualitas
dan mutu sekolah. Karena itu, untuk membangun visi profesionalisme sekolah,
tentu saja membutuhkan manajemen organisasi sekolah yang kokoh.
Sekolah-sekolah yang tidak memiliki manajemen yang berwibawa akan cepat
goyang dan rapuh diterpa oleh arus perubahan dan perkembangan zaman.
Sehingga, visi profesionalisme dalam kaitannya dengan pengembangan mutu
sekolah harus menjadi modal bagi manajemen sekolah.
Dewasa ini, ada kecenderungan dalam
masyarakat untuk menuntut profesionalisme dalam memberikan pelayanan di
bidang jasa, termasuk penyelenggara sekolah. Menurut M. Sarbiran (2003),
bahwa sudah saatnya sekolah harus mengubah paradigma lama dengan menggantikan
paradigma baru yang lebih sesuai dengan tuntutan kemasyarakatan dan dunia
global. Maksud dari perubahan paradigma sekolah itu adalah membangun
manajemen sekolah berbasis mutu. Untuk memenuhi standar kelas global, sekolah
harus mencari alternatif ke depan yang inovatif dengan program-program
unggulan. Hanya dengan cara itulah sekolah-sekolah akan memperoleh pelanggan
dan dukungan masyarakat.
Dalam konteks sekarang, masyarakat sudah
pandai memetakan antara sekolah yang maju dengan sekolah "jenuh".
Maka tidak dapat dipungkiri bahwa walaupun sekolah yang dikemas dengan
program unggulan -sekolah unggulan, sekolah model- itu terkesan mahal, tetapi
banyak orang yang rebutuan untuk menyekolahkan anak-anaknya di situ. Dengan
sedikit agak mahal, tetapi mutunya terjamin maka orang akan berlomba-lomba
untuk memilihnya.
Terlepas ada pandangan yang agak miring,
bahwa sekolah unggulan atau favorit hanya dapat dijangkau oleh kelas
masyarakat menengah ke atas, tetapi menurut hemat penulis hal itu tetap perlu
di lakukan untuk memberikan pelayanan bagi kelompok sosial ekonominya yang
mampu menjangkaunya. Karena sekolah yang memiliki program unggulan tentu saja
tidak bisa disamakan dengan sekolah yang biasa.
Manajemen Mutu
Terkait dengan manajemen mutu sekolah tersebut, paling tidak sekolah harus bisa menjawab beberapa pertanyaan berikut ini. Pertama, bagaimana produk sekolah (lulusan) yang diharapkan oleh masyarakat, dalam hal ini adalah pelanggan. Kedua, bagaimana desain proses pembelajaran harus dilakukan. Ketiga, bagaimanakah menjalankan proses pembelajaran agar efesian dan efektif, dan keempat, bagaimanakah lulusan agar dapat berkualitas dan berkompetisi.
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan
tersebut akan terpulang kepada visi profesionalisme. Melaksanakan pilar demi
pilar yang terkandung dalam pertanyaan tersebut, tidak bisa dengan apa
adanya. Tetapi membutuhkan kerja keras atau etos yang tinggi dan jiwa yang
berlandasikan visi profesionalisme. Manajemen mutu sekolah harus selalu
diarahkan kepada empat tahapan tersebut secara berkelanjutan dan terus
menerus.
Pemberdayaan Guru
Selain tersebut di atas, untuk mencapai standar dan norma-norma serta nilai-nilai kualitas sekolah diperlukan upaya pemberdayaan. Salah satu pemberdayaan yang perlu dilakukan adalah guru. Dalam organisasi sekolah, guru merupakan aktor atau agent penting yang berpengaruh kepada kualitas sekolah. Karena itu, pihak sekolah harus berusaha untuk memberdayakan guru. Upaya ini perlu dilakukan dalam rangka membangun visi profesionalisme sekolah.
Seperti yang terlihat, terdengar dan mungkin
telah menjadi fakta bahwa kondisi guru di sekolah pada umumnya, seringkali
dikesankan tidak memiliki sikap profesionalisme. Sehingga pemberdayaan guru
berarti proses improvisasi diri (self improvement) yang tiada henti. Sebab
terkait dengan kecepatan perkembangan ilmu dan teknologi telah memberikan
tekanan pada sekolah dalam berbagai hal seperti fasilitas, struktur
organisasi serta sumber daya manusia. Mengingat beratnya tugas yang
dijalankan, maka proses pemberdayaan guru merupakan upaya untuk meringankan
bagian-bagian dari tugas yang dipikulnya tersebut. Sehingga untuk melakukan
pemberdayaan harus berangkat dari komitmen dan semangat yang serius. Kalau
pengembangan dipahami sebagai komitmen pembenahan diri maka akan muncul
motivasi dan orientasi yang positif.
Pemberdayaan guru dibangun melalui
penguasaan kompetensi-kompetensi yang secara nyata diperlukan dalam
menyelesaikan pekerjaan. Kompetensi-kompetensi penting jabatan guru tersebut
adalah: kompetensi bidang substansi atau bidang studi, kompetensi bidang
pembelajaran, kompetensi bidang pendidikan nilai dan bimbingan serta
kompetensi bidang hubungan dan pelayanan/pengabdian masyarakat.
Pola dan gaya masyarakat saat ini, hampir
telah mempercayakan sepenuhnya sebagian tugasnya kepada guru. Sehingga tugas
guru yang diemban dari limpahan tugas masyarakat tersebut antara lain adalah
mentransfer kebudayaan dalam arti luas, keterampilan menjalani kehidupan
(life skills), dan nilai-nilai serta belief. Selain itu, guru secara mendalam
harus terlibat dalam kegiatan-kegiatan menjelaskan, mendefinisikan,
membuktikan, dan mengklasifikasi. Tugasnya sebagai pendidik bukan hanya
mentransfer pengetahuan, keterampilan dan sikap, tetapi mempersiapkan
generasi yang lebih baik di masa depan. Oleh karena itu, guru harus memiliki
kompetensi dalam membimbing siswa siap menghadapi the real life dan bahkan
mampu memberikan teladan yang baik.
Selain itu, dituntut mengusai dan mampu
memanfaatkan teknologi informasi dan berubah peran menjadi fasilitator yang
membelajarkan siswa sampai menemukan sesuatu (scientific curiosity).
Selebihnya guru juga harus bersikap demokratis serta menjadi profesional yang
mandiri dan otonom. Peran guru seperti itu sejalan dengan era masyarakat
madani (civil society).***
*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang
|
Komentar:
Setelah saya baca dan
pahami, artikel tersebut pemberdayaan sekolah difokuskan pada keprofesionalan
guru, menurut pendapat saya seharusnya pemberdayaan sekolah tidak hanya
terfokus pada keprofesionalan guru tetapi juga peran kepala sekolah dalam
memimpin guru dalam melaksanakan tugasnya. Guru yang profesionalpun tidak akan
bisa meningkatkan mutu sekolah tanpa adanya kepemimpinan dari kepala sekolah
yang berkualitas. Seperti buku yang pernah kami baca yang isinya” sekelompok
domba yang dipimpin seekor singa akan lebih baik daripada sekelompok singa yang
dipimpin oleh seekor domba”. Maksudnya disini,
sekelompok domba yang dipimpin seekor singa diibaratkan sekelompok
orang yang kurang professional yang
dipimpin oleh orang yang berkualitas,maka pemimpin tersebut mempunyai jiwa
pemimpin yang baik yang bisa menggerakkan anggotanya untuk menjalankan
tugas-tugasnya, berbeda dengan
sekelompok singa yang dipimpin oleh seekor domba maksudnya sekelompok
singa diibaratkan orang yang pandai dan domba diibaratkan orang yang kurang
pandai, maka pemimpin tersebut tidak bisa memimpin dan mengatur anggotanya.
Selain peran kepala
sekolah dan guru yang professional dalam menjalankan visi dan misi
sekolah,peran komite,orang tua dan masyarakat sangat berpengaruh terhadap
kemajuan mutu sekolah, karena peserta didik tidak hanya dididik disekolah saja
namun juga dirumah dan dimasyarakat,sehingga semua elemen juga ikut membantu
dalam meningkatkan mutu sekolah dalam mencerdaskan dan membentuk karakter
peserta didik
