BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Semakin sadarnya orang akan
pentingnya media yang membantu pembelajaran sudah mulai dirasakan. Pengelolaan
alat bantu pembelajaran sudah sangat dibutuhkan. Bahkan pertumbuhan ini
bersifat gradual. Metamorfosis dari perpustakaan yang menekankan pada
penyediaan media cetak, menjadi
penyediaan-permintaan dan pemberian layanan secara multi-sensori dari beragamnya
kemampuan individu untuk menyerap
informasi, menjadikan pelayanan yang diberikan mutlak wajib bervariatif dan
secara luas. Selain itu, dengan
semakin meluasnya kemajuan di bidang komunikasi dan teknologi, serta
diketemukannya dinamika proses belajar, maka pelaksanaan kegiatan pendidikan
dan pengajaran semakin menuntut dan memperoleh media pendidikan yang bervariasi
secara luas pula.
Kata media berasal dari bahasa Latin medium batasan mengenai pengertian
media sangat luas, namun kita membatasi pada media pendidikan saja yakni media
yang digunakan sebagai alat dan bahan kegiatan pembelajaran. Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim pesan kepada
penerima pesan (Sobry Sutikno, 2007:65). Pengembangan media pembelajaran merujuk pada pertimbangan seorang
guru dalam memilih dan menggunakan media pembelajaran untuk digunakan atau
dimanfaatkan dalam kegiatan belajar mengajar serta disesuaikan dengan
karakteristik peserta didik. Hal ini disebabkan adanya beraneka ragam media yang dapat digunakan atau
dimanfaatkan dalam kegiatan belajar mengajar.
Mengapa media pembelajaran perlu
dikembangkan? Karena seiring berjalannya waktu media merupakan salah satu
faktor yang menentukan tercapainya tujuan pembelajaran. Dengan menggunakan
media yang tepat dapat mempercepat peserta didik mengusai materi yang diberikan
guru. Oleh sebab itu, guru yang profesional harus mampu mengembangkan media
pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Dengan melihat paparan di atas, maka
kami memberikan salah satu alat bantu untuk mengembangkan media. Oleh sebab
itu, kami membuat makalah yang berjudul “Dasar-dasar Pengembangan Media
Pembelajaran”.
B.
Rumusan
Masalah
Dari latar belakang masalah di
atas, maka rumusan masalah adalah :
1.
Apa
pengertian pengembangan media pembelajaran?
2.
Bagaimana
prinsip-prinsip pengembangan media pembelajaran?
3.
Bagaimana
langkah-langkah pengembangan media pembelajaran?
4.
Apa
saja contoh pembuatan media pembelajaran?
C.
Tujuan
Makalah
Dari rumusan masalah tersebut, maka
tujuan masalah adalah :
1. Mengetahui pengertian pengembangan media pembelajaran.
2.
Mengetahui
prinsip-prinsip pengembangan media pembelajaran.
3.
Mengetahui
langkah-langkah pengembangan media pembelajaran.
4. Mengetahui contoh pembuatan media pembelajaran.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Pengembangan Media Pembelajaran
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, pengembangan adalah
proses, cara, perbuatan mengembangkan. Dan lebih dijelaskan lagi dalam kamus
umum bahasa Indonesia karya WJS Poerwa Darminta bahwa pengembangan adalah
perbuatan menjadikan bertambah, berubah sempurna (pikiran, pengetahuan dan
sebagainya).
Kegiatan
pengembangan meliputi tahapan: perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang
diikuti dengan kegiatan penyempurnaan sehingga diperoleh bentuk yang dianggap
memadahi. Untuk melakukan kegiatan pengembangan media pembelajaran diperlukan
prosedur pengembangan. Prosedur pengembangan adalah langkah-langkah prosedural
yang harus ditempuh oleh pengembang agar sampai ke produk yang
dispesifikasikan. Prosedur pengembangan media meliputi beberapa tahap, yaitu
perencanaan atau penyusunan rancangan media, produksi media, dan evaluasi
media.
Fungsi media pembelajaran (Sobry Sutikno,2007:67) adalah
a.
Menarik
perhatian siswa
b.
Membantu
untuk mempercepat pemahaman dalam proses pembelajaran
c.
Memperjelas
penyajian pesan agar tidak bersifat verbalistis (dalam bentuk kata-kata
tertulis atau lesan)
d.
Mengatasi
keterbatasan ruang
e.
Pembelajaran
lebih komunikatif dan produktif
f.
Waktu
pembelajaran bisa dikondisikan
g.
Menghilangkan
kebosanan siswa dalam belajar
h.
Meningkatkan
motivasi siswa dalam mempelajari sesuatu atau menimbulkan gairah belajar
i.
Melayani
gaya belajar siswa yang beraneka ragam
j.
Meningkatkan
kadar keaktifan atau keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran.
B. Prinsip-prinsip
Umum Pengembangan Media Pembelajaran
1.
Kesederhanaan
(simplicity)
Bentuk
media harus ringkas, sederhana dan dibatasi pada hal-hal yang penting saja.
Konsepnya harus tergambar dengan jelas serta mudah dipahami. Tulisan cukup
jelas, sederhana dan mudah dibaca.
2.
Kesatuan
(unity)
Prinsip
ini adalah hubungan yang ada di antara unsur-unsur visual dalam kesatuan
fungsinya secara keseluruhan. Bentuk kesatuan ini dinyatakan dengan menggunakan
petunjuk seperti anak panah, garis, bentuk, warna, dan tekstur.
3.
Penekanan
(emphasis)
Dalam
menunjukkan media perlu penekanan pada bagian-bagian tertentu untuk memusatkan
minat dan perhatian.
4.
Keseimbangan
(balance)
Ada
dua jenis keseimbangan, yaitu: formal dan informal. Keseimbangan formal
bentuknya simetris sedangkan keseimbangan informal bentuknya tidak simetris.
5.
Alat-alat
visual
Alat-alat
visual yang dapat membantu keberhasilan penggunaan prinsi-prinsip pengembangan
adalah: garis, bentuk, warna, tekstur dan ruang (Kemp, 1980 dalam Sri Anitah,
2008: 74).
a. Garis
Suatu garis
dapat menghubungkan unsur-unsur bersama untuk mempelajari media dalam urutan
tertentu.
b. Bentuk
Suatu bentuk
yang tidak biasa (aneh) dapat menimbulkan suatu perhatian khusus.
c. Ruang
Ruang yang
digunakan adalah ruang terbuka.
d. Tekstur
Dijadikan sebagai pengganti sentuhan rasa tertentu,
warna, serta memberikan penekanan dan pemisahan atau untuk meningkatkan
kesatuan.
e. Warna
Pemberian warna
digunakan untuk memberikan penekanan, pemisahan atau meningkatkan kesatuan.
Pilihlah warna-warna yang harmonis, sebab banyak warna yang berbeda akan
mengganggu pandangan dan dapat menimbulkan perbedaan persepsi pada pesan yang
dibawakan. Untuk memilih warna harus memperhatikan tiga hal, yaitu:
1) Warna (merah, biru, dsb)
2) Nilai warna (gelap, terang)
3) Kekuatan warna (efeknya)
C. Langkah-Langkah Pengembangan Media Pembelajaran
Secara garis besar kegiatan
pengembangan media pembelajaran terdiri atas tiga langkah besar yang harus
dilalui, yaitu kegiatan perencanaan, produksi dan penilaian. Sementara
itu, dalam rangka melakukan desain atau rancangan pengembangan program media.
Arief Sadiman, dkk, dalam Afhie (2011) memberikan urutan langkah-langkah yang
harus diambil dalam pengembangan program media menjadi 6 (enam) langkah sebagai
berikut:
1.
Menganalisis
kebutuhan dan karakteristik siswa
Kebutuhan dalam proses belajar
mengajar adalah kesenjangan antara apa yang dimiliki siswa dengan apa yang
diharapkan. Contoh jika kita mengharapkan siswa dapat melakukan sholat dengan
baik dan benar, sementara mereka baru bisa takbir saja, maka perlu dilakukan
latihan untuk ruku, sujud, dan seterusnya.
Setelah kita menganalisis
kebutuhan siswa, maka kita juga perlu menganalisis karakteristik siswanya, baik
menyangkut kemampuan pengetahuan atau keterampilan yang telah dimiliki siswa
sebelumnya. Cara mengetahuinya bisa dengan tes atau dengan yang lainnya.
Langkah ini dapat disederhanakan dengan cara mengenalisa topic-topik materi
ajar yang dipandang sulit dan karenanya memerlukan bantuan media. Pada langkah
ini sekaligus pula dapat ditentukan ranah tujuan pembelajaran yang hendak
dicapai, termasuk rangsangan indera mana yang diperlukan (audio, visual, gerak
atau diam).
Contoh melakukan identifikasi
kebutuhan dan karakteristik siswa:
Siswa MI diharapkan sudah
berprilaku hidup sehat dengan rajin menggosok gigi, membuang sampah pada
tempatnya, mandi 2 kali sehari, selalu berpakaian rapih dan tidak jajan
sembarangan. namun dalam kenyataannya tidak sesuai dengan harapan. dengan
demikian terjadi kebutuhan bagaimana meningkatkan sikap siswa untuk hidup
bersih.
Adanya kebutuhan tersebut
seyogyanya menjadi dasar pijakan dalam membuat media pembelajaran, sebab dengan
dorongan kebutuhan inilah media dapat berfungsi dengan baik. dan media yang
digunakan siswa, haruslah relevan dengan kemampuan yang dimiliki siswa.
2.
Merumuskan
tujuan instruksional (Instuctional objective) dengan operasional dan
khas.
Untuk dapat merumuskan
tujuan instruksional dengan baik, ada beberapa ketentuan yang harus diingat,
yaitu:
a.
Tujuan
instruksional harus berorientasi kepada siswa. Artinya tujuan instruksional itu
benar-benar harus menyatakan adanya prilaku siswa yang dapat dilakukan atau
diperoleh setelah proses belajar dilakukan.
b.
Tujuan harus
dinyatakan dengan kata kerja yang operasional, artinya kata kerja itu
menunjukkan suatu prilaku/perbuatan yang dapat diamati atau diukur.
3.
Merumuskan
butir-butir materi secara terperinci yang mendukung tercapainya Tujuan
Penyusunan rumusan butir-butir materi adalah dilihat dari sub kemampuan
atau keterampilan yang dijelaskan dalam tujuan khusus pembelajaran, sehingga
materi yang disusun adalah dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan dari
kegiatan proses belajar mengajar tersebut. Setelah daftar butir-butir materi
dirinci maka langkah selanjutnya adalah mengurutkannya dari yang sederhana
sampai kepada tingkatan yang lebih rumit, dan dari hal-hal yang konkrit kepada
yang abstrak.
4.
Mengembangkan
alat pengukur keberhasilan
Alat pengukur keberhasilan seyogyanya dikembangkan terlebih dahulu sebelum
naskah program ditulis. Dan alat pengukur ini harus dikembangkan sesuai dengan
tujuan yang akan dicapai dan dari materi-materi pembelajaran yang disajikan.
Bentuk alat pengukurnya bisa dengan tes, pengamatan, penugasan atau cheklist
prilaku.
Instrumen tersebut akan digunakan
oleh pengembang media, ketika melakukan tes uji coba dari program media yang
dikembangkannya. Misalkan alat pengukurnya tes, maka siswa nanti akan diminta
mengerjakan materi tes tersebut. Kemudian dilihat bagaimana hasilnya. Apakah
siswa menunjukkan penguasaan materi yang baik atau tidak dari efek media yang
digunakannya atau dari materi yang dipelajarinya melalui sajian media. Jika
tidak maka dimanakah letak kekurangannya. Dengan demikian, maka siswa dimintai
tanggapan tentang media tersebut, baik dari segi kemenarikan maupun efektifitas
penyajiannya.
5.
Menulis Naskah
Media
Naskah media adalah bentuk
penyajian materi pembelajaran melalui media rancangan yang merupakan
penjabaran dari pokok-pokok materi yang telah disusun secara baik seperti yang
telah dijelaskan di atas. Supaya materi pembelajaran itu dapat disampaikan
melalui media, maka materi tersebut perlu dituangkan dalam tulisan atau gambar
yang kita sebut naskah program media.
Naskah program media maksudnya
adalah sebagai penuntun kita dalam memproduksi media. Artinya menjadi penuntut
kita dalam mengambil gambar dan merekam suara. Karena naskah ini berisi urutan
gambar dan grafis yang perlu diambil oleh kamera atau bunyi dan suara yang
harus direkam.
Ada beberapa macam bentuk naskah
program media, namun pada prinsipnya mempunyai maksud yang sama, yaitu sebagai
penuntun dan usaha memproduksi media pembelajaran. Naskah program media terdiri
dari urutan gambar, caption atau grafis yang perlu diambil dengan alat kamera
dan suara atau bunyi yang diambil dengan alat perekam suara. Lembaran naskah
tersebut dibagi menjadi dua kolom, di sebelah kiri terdiri dari gambar, caption
atau grafis. Sedangkan di sebelah kanan berisi narasi atau percakapan yang
dibaca narator atau pelaku, dan suara lain yang diperlukan.
6.
Mengadakan Tes
atau Uji Coba dan Revisi
Tes adalah kegiatan untuk menguji
atau mengetahui tingkat efektifitas dan kesesuaian media yang dirancang dengan
tujuan yang diharapkan dari program tersebut. Sesuatu program media yang oleh
pembuatnya dianggap telah baik, tetapi bila program itu tidak menarik, atau
sukar dipahami atau tidak merangsang proses belajar bagi siswa yang ditujunya,
maka program semacam ini tentu saja tidak dikatakan baik.
Tes atau uji coba tersebut dapat
dilakukan baik melalui perseorangan atau melalui kelompok kecil atau juga melalui
tes lapangan, yaitu dalam proses pembelajaran yang sesungguhnya dengan
menggunakan media yang dikembangkan. Sedangkan revisi adalah kegiatan untuk
memperbaiki hal-hal yang dianggap perlu mendapatkan perbaikan atas hasil dari
tes.
Jika semua
langkah-langkah tersebut telah dilakukan dan telah dianggap tidak ada lagi yang
perlu direvisi, maka langkah selanjutnya adalah media tersebut siap untuk
diproduksi. akan tetapi bisa saja terjadi setelah dilakukan produksi ternyata
setalah disebarkan atau disajikan ada beberapa kekurangan dari aspek materi
atau kualitas sajian medianya (gambar atau suara) maka dalam kasus seperti ini
dapat pula dilakukan perbaikan (revisi) terhadap aspek yang dianggap kurang.
Hal ini dilakukan untuk mendapatkan kesempurnaan dari media yang dibuat,
sehingga para penggunanya akan mudah menerima pesan-pesan yang disampaikan
melalui media tersebut. Prosedur tes/uji coba ini akan dijelaskan lebih lanjut
dalam bab yang menjelaskan tentang evaluasi.
D. Contoh
Pembuatan Media Pembelajaran
1.
Pembuatan
Transparansi (Overhead Transparancy/ OHT)
Dalam pembuatan transparansi harus memperhatikan
kesederhanaan, kesatuan, keseimbangan serta 5 unsur tambahan seperti garis,
bentuk, tekstur, warna dan ruang.(Sri Anitah,2008:77).
Cara pembuatan :
a.
Dengan
menggambar atau menulis langsung pada lembar transparansi dengan spidol
(transparan langsung).
1)
Siapkan
transparansi
2)
Buatlah
layout pada selembar kertas
3)
Pindahkan
layout tersebut dengan menggambarkan pada transparansi
4)
Agar
transparansi kelihatan rapi berilah bingkai yang di gunakan untuk mengingatkan
penyaji pada hal-hal pokok yang akan disajikan.
b.
Dengan
transparansi melalui komputer dengan program Ms Power Point.
1)
Diketik
dengan program Ms Word atau Ms Power Point kemudian diprint. Dari hasil cetakan
ini dapat dikopi ke transparan.
2)
Bahan
di ketik dengan menggunakan Ms Power Point, dikopi pada CD atau USB untuk
ditampilkan melalui LCD proyektor.
2.
Pembuatan
Naskah Media Grafis
Media grafis (seperti gambar, poster, grafik, diagram, karikatur, komik)
adalah media yang dihasilkan dengan cara dicetak melalui teknik manual atau
dibuat dengan cara menggambarkan atau melukis, teknik printing, sablon, atau
offset, sehingga media ini disebut juga sebagai printed material atau
bahan-bahan yang tercetak.
Prosedur umum dalam merancang
media grafis dapat dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
a.
Mengidentifikasi
program, dalam hal ini tentukanlah: Nama mata pelajaran, pokok bahasan, dan sub
pokok bahasan, tujuan pembelajaran, atau kompetensi yang diharapkan, dan
sasaran (siswa yang akan menggunajan: kelas, semester).
b.
Mengkaji
literature, dalam membuat media cetak ini guru selanjutnya menentukan isi
materi yang akan disajikan pada kedua media tersebut. perlu diketahui bahwa
menentukan isi yang akan disajikan pada media cetak dann media presentasi bukan
memindahkan semua isi dalam buku teks, namun perlu dikemas sedemikian rupa
sehingga materi dapat divisualisasikan lebih tepat, merangkum materi yang
disampaikan, jelas dan menarik minat dan perhatian siswa.
c.
Membuat naskah.
naskah untuk media grafis berisi sketsa visual yang akan ditampilkan berisi
objek gambar, grafik, diagram, objek foto dan isi pesan visual dalam bentuk
teks. naskah untuk media presentasi berupa storyboard dengan format double
kolom berisi kolom visual yang diisi dengan semua tampilan dan bentuk visual
dan kolom audio.
d.
Kegiatan
Produksi. media cetak dapat dibuat secara manual atau menggunakan computer.
cara manual berarti diperlukan keterampilan khusus untuk menggambar, melukis
atau membuat dekorasi objek grafis. bahan-bahan yang diperlukan seperti
kanvas/kertas, cat air, kuas, minyak, spon, berbagai bentuk hahan, dan
lain-lain. cara kedua menggunakan computer grafis menggunakan software aplikasi
penggunaan gambar dan dicetak dengan printer warna.
DAFTAR PUSTAKA
Anitah, Sri.
2008. Media Pembelajaran. Surakarta:
Sebelas Maret University Press.
Sutikno, Sobry
& Faathurrohman, Pupuh. 2007. Strategi
Belajar Mengajar melalui Penanaman Konsep Umum & Konsep Islami.
Bandung: Refika Aditama.
Afhie. 2011. Pengertian Pengembangan
Media. Dalam http://afhie-cirebon.blogspot.com/2011/12/pengertian-pengembangan-media.html
0 komentar:
Posting Komentar