Rabu, 14 November 2012

Makalah Media Pembelajaran


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
  Semakin sadarnya orang akan pentingnya media yang membantu pembelajaran sudah mulai dirasakan. Pengelolaan alat bantu pembelajaran sudah sangat dibutuhkan. Bahkan pertumbuhan ini bersifat gradual. Metamorfosis dari perpustakaan yang menekankan pada penyediaan media cetak, menjadi penyediaan-permintaan dan pemberian layanan secara multi-sensori dari beragamnya kemampuan individu untuk menyerap informasi, menjadikan pelayanan yang diberikan mutlak wajib bervariatif dan secara luas. Selain itu, dengan semakin meluasnya kemajuan di bidang komunikasi dan teknologi, serta diketemukannya dinamika proses belajar, maka pelaksanaan kegiatan pendidikan dan pengajaran semakin menuntut dan memperoleh media pendidikan yang bervariasi secara luas pula.
Kata media berasal dari bahasa Latin medium batasan mengenai pengertian media sangat luas, namun kita membatasi pada media pendidikan saja yakni media yang digunakan sebagai alat dan bahan kegiatan pembelajaran. Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim pesan kepada penerima pesan (Sobry Sutikno, 2007:65).  Pengembangan media pembelajaran merujuk pada pertimbangan seorang guru dalam memilih dan menggunakan media pembelajaran untuk digunakan atau dimanfaatkan dalam kegiatan belajar mengajar serta disesuaikan dengan karakteristik peserta didik. Hal ini disebabkan adanya beraneka ragam media yang dapat digunakan atau dimanfaatkan dalam kegiatan belajar mengajar.
Mengapa media pembelajaran perlu dikembangkan? Karena seiring berjalannya waktu media merupakan salah satu faktor yang menentukan tercapainya tujuan pembelajaran. Dengan menggunakan media yang tepat dapat mempercepat peserta didik mengusai materi yang diberikan guru. Oleh sebab itu, guru yang profesional harus mampu mengembangkan media pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Dengan melihat paparan di atas, maka kami memberikan salah satu alat bantu untuk mengembangkan media. Oleh sebab itu, kami membuat makalah yang berjudul “Dasar-dasar Pengembangan Media Pembelajaran”.

B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah adalah :
1.      Apa pengertian pengembangan media pembelajaran?
2.      Bagaimana prinsip-prinsip pengembangan media pembelajaran?
3.      Bagaimana langkah-langkah pengembangan media pembelajaran?
4.      Apa saja contoh pembuatan media pembelajaran?

C.    Tujuan Makalah
Dari rumusan masalah tersebut, maka tujuan masalah adalah :
1.      Mengetahui pengertian pengembangan media pembelajaran.
2.      Mengetahui prinsip-prinsip pengembangan media pembelajaran.
3.      Mengetahui langkah-langkah pengembangan media pembelajaran.
4.      Mengetahui contoh pembuatan media pembelajaran.









BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Pengembangan Media Pembelajaran
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, pengembangan adalah proses, cara, perbuatan mengembangkan. Dan lebih dijelaskan lagi dalam kamus umum bahasa Indonesia karya WJS Poerwa Darminta bahwa pengembangan adalah perbuatan menjadikan bertambah, berubah sempurna (pikiran, pengetahuan dan sebagainya).
Kegiatan pengembangan meliputi tahapan: perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang diikuti dengan kegiatan penyempurnaan sehingga diperoleh bentuk yang dianggap memadahi. Untuk melakukan kegiatan pengembangan media pembelajaran diperlukan prosedur pengembangan. Prosedur pengembangan adalah langkah-langkah prosedural yang harus ditempuh oleh pengembang agar sampai ke produk yang dispesifikasikan. Prosedur pengembangan media meliputi beberapa tahap, yaitu perencanaan atau penyusunan rancangan media, produksi media, dan evaluasi media.
Fungsi media pembelajaran (Sobry Sutikno,2007:67) adalah
a.         Menarik perhatian siswa
b.         Membantu untuk mempercepat pemahaman dalam proses pembelajaran
c.         Memperjelas penyajian pesan agar tidak bersifat verbalistis (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lesan)
d.        Mengatasi keterbatasan ruang
e.         Pembelajaran lebih komunikatif dan produktif
f.          Waktu pembelajaran bisa dikondisikan
g.         Menghilangkan kebosanan siswa dalam belajar
h.         Meningkatkan motivasi siswa dalam mempelajari sesuatu atau menimbulkan gairah belajar
i.           Melayani gaya belajar siswa yang beraneka ragam
j.           Meningkatkan kadar keaktifan atau keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran.


B.       Prinsip-prinsip Umum Pengembangan Media Pembelajaran
1.         Kesederhanaan (simplicity)
Bentuk media harus ringkas, sederhana dan dibatasi pada hal-hal yang penting saja. Konsepnya harus tergambar dengan jelas serta mudah dipahami. Tulisan cukup jelas, sederhana dan mudah dibaca.
2.         Kesatuan (unity)
Prinsip ini adalah hubungan yang ada di antara unsur-unsur visual dalam kesatuan fungsinya secara keseluruhan. Bentuk kesatuan ini dinyatakan dengan menggunakan petunjuk seperti anak panah, garis, bentuk, warna, dan tekstur.
3.         Penekanan (emphasis)
Dalam menunjukkan media perlu penekanan pada bagian-bagian tertentu untuk memusatkan minat dan perhatian.
4.         Keseimbangan (balance)
Ada dua jenis keseimbangan, yaitu: formal dan informal. Keseimbangan formal bentuknya simetris sedangkan keseimbangan informal bentuknya tidak simetris.
5.         Alat-alat visual
Alat-alat visual yang dapat membantu keberhasilan penggunaan prinsi-prinsip pengembangan adalah: garis, bentuk, warna, tekstur dan ruang (Kemp, 1980 dalam Sri Anitah, 2008: 74).
a.    Garis
     Suatu garis dapat menghubungkan unsur-unsur bersama untuk mempelajari media dalam urutan tertentu.
b.    Bentuk
     Suatu bentuk yang tidak biasa (aneh) dapat menimbulkan suatu perhatian khusus.
c.    Ruang
     Ruang yang digunakan adalah ruang terbuka.
d.   Tekstur
Dijadikan sebagai pengganti sentuhan rasa tertentu, warna, serta memberikan penekanan dan pemisahan atau untuk meningkatkan kesatuan.
e.    Warna
     Pemberian warna digunakan untuk memberikan penekanan, pemisahan atau meningkatkan kesatuan. Pilihlah warna-warna yang harmonis, sebab banyak warna yang berbeda akan mengganggu pandangan dan dapat menimbulkan perbedaan persepsi pada pesan yang dibawakan. Untuk memilih warna harus memperhatikan tiga hal, yaitu:
1)    Warna (merah, biru, dsb)
2)    Nilai warna (gelap, terang)
3)    Kekuatan warna (efeknya)

C.      Langkah-Langkah Pengembangan Media Pembelajaran
Secara garis besar kegiatan pengembangan media pembelajaran terdiri atas tiga langkah besar yang harus dilalui, yaitu kegiatan perencanaan, produksi dan penilaian. Sementara itu, dalam rangka melakukan desain atau rancangan pengembangan program media. Arief Sadiman, dkk, dalam Afhie (2011) memberikan urutan langkah-langkah yang harus diambil dalam pengembangan program media menjadi 6 (enam) langkah sebagai berikut:   
1.    Menganalisis kebutuhan dan karakteristik siswa
Kebutuhan dalam proses belajar mengajar adalah kesenjangan antara apa yang dimiliki siswa dengan apa yang diharapkan. Contoh jika kita mengharapkan siswa dapat melakukan sholat dengan baik dan benar, sementara mereka baru bisa takbir saja, maka perlu dilakukan latihan untuk ruku, sujud, dan seterusnya.
Setelah kita menganalisis kebutuhan siswa, maka kita juga perlu menganalisis karakteristik siswanya, baik menyangkut kemampuan pengetahuan atau keterampilan yang telah dimiliki siswa sebelumnya. Cara mengetahuinya bisa dengan tes atau dengan yang lainnya. Langkah ini dapat disederhanakan dengan cara mengenalisa topic-topik materi ajar yang dipandang sulit dan karenanya memerlukan bantuan media. Pada langkah ini sekaligus pula dapat ditentukan ranah tujuan pembelajaran yang hendak dicapai, termasuk rangsangan indera mana yang diperlukan (audio, visual, gerak atau diam).
Contoh melakukan identifikasi kebutuhan dan karakteristik siswa:
Siswa MI diharapkan sudah berprilaku hidup sehat dengan rajin menggosok gigi, membuang sampah pada tempatnya, mandi 2 kali sehari, selalu berpakaian rapih dan tidak jajan sembarangan. namun dalam kenyataannya tidak sesuai dengan harapan. dengan demikian terjadi kebutuhan bagaimana meningkatkan sikap siswa untuk hidup bersih.
Adanya kebutuhan tersebut seyogyanya menjadi dasar pijakan dalam membuat media pembelajaran, sebab dengan dorongan kebutuhan inilah media dapat berfungsi dengan baik. dan media yang digunakan siswa, haruslah relevan dengan kemampuan  yang dimiliki siswa.

2.    Merumuskan tujuan instruksional (Instuctional objective) dengan operasional dan khas.
                        Untuk dapat merumuskan tujuan instruksional dengan baik, ada beberapa ketentuan yang harus diingat, yaitu:
a.         Tujuan instruksional harus berorientasi kepada siswa. Artinya tujuan instruksional itu benar-benar harus menyatakan adanya prilaku siswa yang dapat dilakukan atau diperoleh setelah proses belajar dilakukan.
b.         Tujuan harus dinyatakan dengan kata kerja yang operasional, artinya kata kerja itu menunjukkan suatu prilaku/perbuatan yang dapat diamati atau diukur.



3.    Merumuskan butir-butir materi secara terperinci yang mendukung tercapainya Tujuan
Penyusunan rumusan butir-butir materi adalah dilihat dari sub kemampuan atau keterampilan yang dijelaskan dalam tujuan khusus pembelajaran, sehingga materi yang disusun adalah dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan dari kegiatan proses belajar mengajar tersebut. Setelah daftar butir-butir materi dirinci maka langkah selanjutnya adalah mengurutkannya dari yang sederhana sampai kepada tingkatan yang lebih rumit, dan dari hal-hal yang konkrit kepada yang abstrak.

4.    Mengembangkan alat pengukur keberhasilan
Alat pengukur keberhasilan seyogyanya dikembangkan terlebih dahulu sebelum naskah program ditulis. Dan alat pengukur ini harus dikembangkan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai dan dari materi-materi pembelajaran yang disajikan. Bentuk alat pengukurnya bisa dengan tes, pengamatan, penugasan atau cheklist prilaku.
Instrumen tersebut akan digunakan oleh pengembang media, ketika melakukan tes uji coba dari program media yang dikembangkannya. Misalkan alat pengukurnya tes, maka siswa nanti akan diminta mengerjakan materi tes tersebut. Kemudian dilihat bagaimana hasilnya. Apakah siswa menunjukkan penguasaan materi yang baik atau tidak dari efek media yang digunakannya atau dari materi yang dipelajarinya melalui sajian media. Jika tidak maka dimanakah letak kekurangannya. Dengan demikian, maka siswa dimintai tanggapan tentang media tersebut, baik dari segi kemenarikan maupun efektifitas penyajiannya.

5.    Menulis Naskah Media
Naskah media adalah bentuk penyajian materi pembelajaran melalui media rancangan yang merupakan  penjabaran dari pokok-pokok materi yang telah disusun secara baik seperti yang telah dijelaskan di atas. Supaya materi pembelajaran itu dapat disampaikan melalui media, maka materi tersebut perlu dituangkan dalam tulisan atau gambar yang kita sebut naskah program media.
Naskah program media maksudnya adalah sebagai penuntun kita dalam memproduksi media. Artinya menjadi penuntut kita dalam mengambil gambar dan merekam suara. Karena naskah ini berisi urutan gambar dan grafis yang perlu diambil oleh kamera atau bunyi dan suara yang harus direkam.
Ada beberapa macam bentuk naskah program media, namun pada prinsipnya mempunyai maksud yang sama, yaitu sebagai penuntun dan usaha memproduksi media pembelajaran. Naskah program media terdiri dari urutan gambar, caption atau grafis yang perlu diambil dengan alat kamera dan suara atau bunyi yang diambil dengan alat perekam suara. Lembaran naskah tersebut dibagi menjadi dua kolom, di sebelah kiri terdiri dari gambar, caption atau grafis. Sedangkan di sebelah kanan berisi narasi atau percakapan yang dibaca narator atau pelaku, dan suara lain yang diperlukan.

6.    Mengadakan Tes atau Uji Coba dan Revisi
Tes adalah kegiatan untuk menguji atau mengetahui tingkat efektifitas dan kesesuaian media yang dirancang dengan tujuan yang diharapkan dari program tersebut. Sesuatu program media yang oleh pembuatnya dianggap telah baik, tetapi bila program itu tidak menarik, atau sukar dipahami atau tidak merangsang proses belajar bagi siswa yang ditujunya, maka program semacam ini tentu saja tidak dikatakan baik.
Tes atau uji coba tersebut dapat dilakukan baik melalui perseorangan atau melalui kelompok kecil atau juga melalui tes lapangan, yaitu dalam proses pembelajaran yang sesungguhnya dengan menggunakan media yang dikembangkan. Sedangkan revisi adalah kegiatan untuk memperbaiki hal-hal yang dianggap perlu mendapatkan perbaikan atas hasil dari tes.
Jika semua langkah-langkah tersebut telah dilakukan dan telah dianggap tidak ada lagi yang perlu direvisi, maka langkah selanjutnya adalah media tersebut siap untuk diproduksi. akan tetapi bisa saja terjadi setelah dilakukan produksi ternyata setalah disebarkan atau disajikan ada beberapa kekurangan dari aspek materi atau kualitas sajian medianya (gambar atau suara) maka dalam kasus seperti ini dapat pula dilakukan perbaikan (revisi) terhadap aspek yang dianggap kurang. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan kesempurnaan dari media yang dibuat, sehingga para penggunanya akan mudah menerima pesan-pesan yang disampaikan melalui media tersebut. Prosedur tes/uji coba ini akan dijelaskan lebih lanjut dalam bab yang menjelaskan tentang evaluasi.  

D.      Contoh Pembuatan Media Pembelajaran
1.         Pembuatan Transparansi (Overhead Transparancy/ OHT)
Dalam pembuatan transparansi harus memperhatikan kesederhanaan, kesatuan, keseimbangan serta 5 unsur tambahan seperti garis, bentuk, tekstur, warna dan ruang.(Sri Anitah,2008:77).
Cara pembuatan :
a.              Dengan menggambar atau menulis langsung pada lembar transparansi dengan spidol (transparan langsung).
1)        Siapkan transparansi
2)        Buatlah layout pada selembar kertas
3)        Pindahkan layout tersebut dengan menggambarkan pada transparansi
4)        Agar transparansi kelihatan rapi berilah bingkai yang di gunakan untuk mengingatkan penyaji pada hal-hal pokok yang akan disajikan.


b.             Dengan transparansi melalui komputer dengan program Ms Power Point.
1)        Diketik dengan program Ms Word atau Ms Power Point kemudian diprint. Dari hasil cetakan ini dapat dikopi ke transparan.
2)        Bahan di ketik dengan menggunakan Ms Power Point, dikopi pada CD atau USB untuk ditampilkan melalui LCD proyektor.

2.         Pembuatan Naskah Media Grafis
Media grafis (seperti gambar, poster, grafik, diagram, karikatur, komik) adalah media yang dihasilkan dengan cara dicetak melalui teknik manual atau dibuat dengan cara menggambarkan atau melukis, teknik printing, sablon, atau offset, sehingga media ini disebut juga sebagai printed material atau bahan-bahan yang tercetak.
Prosedur umum dalam merancang media grafis dapat dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
a.              Mengidentifikasi program, dalam hal ini tentukanlah: Nama mata pelajaran, pokok bahasan, dan sub pokok bahasan, tujuan pembelajaran, atau kompetensi yang diharapkan, dan sasaran (siswa yang akan menggunajan: kelas, semester).
b.             Mengkaji literature, dalam membuat media cetak ini guru selanjutnya menentukan isi materi yang akan disajikan pada kedua media tersebut. perlu diketahui bahwa menentukan isi yang akan disajikan pada media cetak dann media presentasi bukan memindahkan semua isi dalam buku teks, namun perlu dikemas sedemikian rupa sehingga materi dapat divisualisasikan lebih tepat, merangkum materi yang disampaikan, jelas dan menarik minat dan perhatian siswa.


c.              Membuat naskah. naskah untuk media grafis berisi sketsa visual yang akan ditampilkan berisi objek gambar, grafik, diagram, objek foto dan isi pesan visual dalam bentuk teks. naskah untuk media presentasi berupa storyboard dengan format double kolom berisi kolom visual yang diisi dengan semua tampilan dan bentuk visual dan kolom audio.
d.             Kegiatan Produksi. media cetak dapat dibuat secara manual atau menggunakan computer. cara manual berarti diperlukan keterampilan khusus untuk menggambar, melukis atau membuat dekorasi objek grafis. bahan-bahan yang diperlukan seperti kanvas/kertas, cat air, kuas, minyak, spon, berbagai bentuk hahan, dan lain-lain. cara kedua menggunakan computer grafis menggunakan software aplikasi penggunaan gambar dan dicetak dengan printer warna.


















DAFTAR PUSTAKA

Anitah, Sri. 2008. Media Pembelajaran. Surakarta: Sebelas Maret University Press.
Sutikno, Sobry & Faathurrohman, Pupuh. 2007. Strategi Belajar Mengajar melalui Penanaman Konsep Umum & Konsep Islami. Bandung: Refika Aditama.
Afhie. 2011. Pengertian Pengembangan Media. Dalam http://afhie-cirebon.blogspot.com/2011/12/pengertian-pengembangan-media.html



0 komentar:

Posting Komentar

.
 
Pink Bobblehead Bunny